Your Words Create Your World

Featured Image Your Words Create Your World

92,000

Itu adalah jumlah kata yang tercakup dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2013).

Sementara itu:

218,632

adalah jumlah kata yang tercakup dalam Oxford English Dictionary (edisi ke-20).

Demikian banyak kata-kata yang bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari, bukan?

Namun konon, kita hanya menggunakan sekitar sekitar 7,000 kata saat beraktifitas dan itu pun terdiri dari pengulangan kata-kata yang serupa. Bahkan William Shakespeare, yang dianggap sebagai penulis yang menggunakan variasi kata terbanyak, hanya menggunakan sekitar 29,000 kata.

Effendi Gazali

Effendi Gazali – Pakar Komunikasi Politik (courtesy of tempo.co)

Tren menghitung frekuensi kata yang digunakan seseorang mulai menjamur akhir-akhir ini, seperti yang dilakukan oleh Effendi Gazali, pakar komunikasi politik, saat Indonesia tengah dihebohkan dengan multitafsir pidato Megawati Soekarnoputri tentang ‘Presiden Joko Widodo disebut sebagai petugas partai’ dalam Rakernas PDIP 09 April 2015 lalu.

Effendi mencatat bahwa Megawati Soekarnoputri menggunakan total 2,653 kata dengan beragam frekuensi kata-kata yang digunakan. Contoh: partai 46 kali; perjuangan 28 kali; rakyat 28 kali; revolusi 23 kali; kader 8 kali; Pancasila 3 kali; Nawacita tidak ada; Jokowi 1 kali; pengkhianatan 2 kali; ditusuk dari belakang 1 kali, dan seterusnya.

Seolah dengan kecermatan Effendi Gazali dalam menghitung kata-kata yang digunakan Megawati Soekarnoputri, argumen apa pun yang digunakan untuk membela kelurusan yang diinginkan oleh partai – akhirnya dibuat terhening dengan fakta berupa frekuensi kata. Kata-kata yang sering digunakan menyingkapkan motivasi pidato seseorang lebih dari propaganda yang coba dibangun.

Action Speaks Louder than Words

Mark Twain Action Speaks Louder Than Words

Mark Twain (image courtesy of Huffington Post)

Mark Twain penulis novel klasik yang terkenal menorehkan kalimat di atas Action speaks louder than words. Tindakan kita berbicara lebih lantang dari kata-kata kita.

Akan tetapi, saya berargumen bahwa kata-kata kita pun menentukan atau membentuk tindakan. Kata-kata yang sering kita gunakan mengarahkan kita kepada apa yang akhirnya kita lakukan. Kata-kata kita pun menunjukkan suasana hati.

Sikap hati kita dan cara pikir kita dapat diterka dari kata-kata apa yang paling sering kita ujarkan. Dan, kata-kata yang paling sering kita ujarkan itu akan memberikan reinforcement atau penguatan atas tindakan kita.

Kisah Ricky, Cecilia dan Paul

Izinkan saya membagikan beberapa kisah yang saya miliki dengan para klien:

Baca juga  3 Tips Praktis untuk membantu Sales Anda mendapatkan kepercayaan

Ricky dengan kata “Susah”

Pak Ricky adalah seorang produsen garmen dan lulusan luar negeri. Dia memiliki banyak ide-ide cemerlang tentang bagaimana mengembangkan bisnisnya, dan memiliki banyak potensi untuk melakukannya.

Akan tetapi dalam perbincangan-perbincangan dengan beliau diwarnai dengan kata “susah” dari mulut beliau. Pembicaraan kami akan sebuah ide biasanya sudah gugur di setengah jam pertama karena ia kemudian berkata “tapi susah, Coach” – entah karena pandangannya akan customer, tim atau situasi pasar.

Jujur saya lumayan kesal juga dengan klien ini. Hampir saja saya menyerah dengannya, sampai saya menemukan ide ini: saya memintanya untuk menambah kata “susah” dengan “bila saya tidak…”.

Jadi saya memintanya berkata “itu susah Coach, bila saya tidak melatih tim saya dengan serius” dan hal itu membuka matanya bahwa ia harus melatih timnya dengan serius.

Atau “itu susah Coach, bila saya tidak mensosialisasikan produk baru saya dengan marketing tools kepada toko-toko yang beli dari saya”.

Pak Ricky memiliki ide dan potensi yang hebat, namun daya juang yang rendah. Dengan kata “bila saya tidak…”, ia dikondisikan untuk melihat bahwa tanggung jawab realisasi ide itu ada pada dirinya.

Cecilia dengan kata “Gak ada waktu”

Banyak pebisnis yang urung mengejar goal bisnis dengan alasan tidak ada waktu. Demikian pula dengan Ibu Cecilia, seorang penerus bisnis keluarga di bidang transportasi.

“Gak ada waktu” atau “sedang sibuk” adalah kata-kata andalannya saat saya menjadi accountability partner untuk mimpinya mengembangkan bisnisnya ke kota lain.

Kata-kata tersebut seolah menjadi alasan pamungkas yang membuat saya “wajib memaklumi” bahwa beliau tidak bertindak apa-apa untuk mimpinya (tidak melakukan action plan yang sudah disepakati).

Namun saya tidak mau menyerah dulu, saya memintanya menggunakan kata “itu bukan prioritas” setiap kali ia urung bertindak.

Sebagai contoh, bila ia biasa berkata “Sorry, Coach, saya belum review laporan keuangan saya karena tidak ada waktu”, maka ia harus berkata: “Sorry, Coach, saya belum review laporan keuangan saya karena itu bukan prioritas”.

Baca juga  Karyawan Muda Perlu Kenal dengan Murphy

Dan ia pun akan risih karena ia sebelumnya pernah berkata bahwa itu sangat penting.

Mau tidak mau pun ia yang perlu “menyatukan perkataan dengan perbuatannya” dan bertanggung jawab dengan keinginannya.

Paul dengan kata “Saya diskusikan dulu dengan atasan saya”

Beberapa middle level leader mengalami dilema: punya tanggung jawab besar namun otoritas kecil. Namun seharusnya tidak dengan Bapak Paul, seorang Direktur perusahaan keluarga yang bergerak di bidang filter air.

Saat kami mendapatkan kontrak untuk membantu perusahaannya menaikkan kinerja penjualan yang merosot di 2014, orang pertama yang perlu kami sering temui adalah Bapak Paul. Kami menyambut hal itu dengan antusias karena berpikir bahwa seorang direktur adalah change agent karena memiliki decision-making power.

Namun kami cukup terkejut bahwa dalam sebulan pertama, beberapa pertemuan kami justru tidak membuahkan peta perbaikan karena kata yang sering digunakan oleh beliau adalah “nanti saya diskusikan dulu dengan atasan saya”.

Atasannya adalah ibunya dan saat saya berbincang dengan ibunya di sebuah makan siang – ini respon ibunya:  “Itulah Coach, anak saya itu paling malas mikir dan ia juga tidak pernah benar-benar nanya ke saya. Padahal saya dukung keputusannya baik berhasil maupun gagal”.

Berjanji bahwa saya tidak akan menyerah, di pertemuan berikut dengan Pak Paul, saya membawa sebuah papan nama yang cantik sebagai hadiah. Di papan itu tertulis “Paul Chandrakusuma, Direktur Utama”.

Dan saya memintanya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan “menurut pendapat saya sebagai direktur utama…

Saat beliau bertanya mengapa perlu demikian, saya menjawab santai “pendapat itu gak ada salah dan benar Pak, dan Bapak sebagai direktur berhak berpendapat juga”. Ternyata, pendapatnya bagus-bagus dan dari sebuah pendapat kami akhirnya bisa membuat produk inovatif yang mendongkrak penjualan yang stagnan di 2014 lalu.

Beliau juga menjelaskan bahwa ia selama ini bermain di zona aman karena merasa tidak mengerti apa-apa tentang bisnis yang hendak diwariskan oleh ibunya. Kata “menurut pendapat saya sebagai direktur utama…” menguatkan jatidirinya dan membuka jalan untuk melihat bisnis sebagai sebuah permainan taktik.

The Simple Concept: Your Words Create Your World

Manusia cenderung berkata-kata dengan apa yang ia ketahui atau yang ia percayai. Itu sebabnya bila Anda sedang berbicara lintas industri atau lintas bidang, Anda terkadang mendapat kesulitan untuk memahami apa yang si pembicara katakan.

Baca juga  Generational Tension at Workplace

Misalnya, seorang ahli IT akan menjelaskan dengan istilah-istilah yang ia ketahui dan kita terbengong-bengong mendengarnya. Atau seorang dokter yang perlu menggunakan ilustrasi untuk memperjelas bagaimana sebuah virus menyerang tubuh dan cara pengobatannya.

Menarik untuk disimak bahwa kemudian bahwa pemilihan kata Anda pada akhirnya membentuk cara pikir Anda.

Kisah Ricky, Cecilia dan Paul mencitrakan bagaimana pengubahan kata-kata bisa berdampak besar dalam kepemimpinan kita. Mengapa?

Karena manusia cenderung berkata-kata dengan apa yang ia ketahui atau yang ia percayai – namun manusia cenderung bertindak sesuai dengan apa yang ia rasakan. Dan “kata-kata” yang kita gunakan membentuk emosi dan perasaan kita.

Karena manusia cenderung berkata-kata dengan apa yang ia ketahui atau yang ia percayai – namun manusia cenderung bertindak sesuai dengan apa yang ia rasakan. Dan “kata-kata” yang kita gunakan membentuk emosi dan perasaan kita.

Ricky dengan ‘susah’, Cecilia dengan ‘gak ada waktu’, Paul dengan ‘saya diskusikan dulu dengan atasan saya’ menciptakan emosi yang kalah sebelum berperang, emosi yang menyangkal dan emosi yang bersembunyi dari tantangan.

two wolves

Bila saya boleh menggunakan ilustrasi ini, kepemimpinan Anda itu seperti dua ekor serigala yang selalu berkelahi.

Ada serigala yang bertindak dengan penuh semangat dan inovatif dan ada serigala yang sering kuatir dan membeku saat bertemu masalah. Yang mana yang akan memenangkan perkelahian? Jawabannya adalah serigala yang paling sering Anda beri makan. Dan makanan itu adalah kata-kata yang positif dan menggugah tanggung jawab.

Talk-It Over

Leaders, kata-kata yang kita gunakan mencitrakan apa yang kita tahu dan yang kita percayai. Kata-kata tersebut kemudian membentuk emosi kita dan emosi kita membuat kita bertindak.

Alangkah menariknya, bukan, bila sama seperti Ricky, Cecilia dan Paul, kita mengubah kata-kata yang selama ini menghambat dengan kata-kata yang menerobos?

Saat Anda sedang merasakan organisasi atau bisnis Anda stagnan, coba perhatikan kata-kata Anda dan cobalah untuk mengubahnya. Dan temukanlah bahwa your words create your world.

Selamat mengubah dunia!

Artikel ini diadaptasi dari Your Words Create Your World yang ditulis oleh Coach Danny Wira Dharma untuk Managers’ Scope edisi Juni 2015.

Ide-Bisnis.com