The Feminine Leader

Mengapa wanita sering tidak menyadari mereka memimpin lebih baik dari pria

Ketiklah “pemimpin wanita” di Google, dan Anda akan menemukan banyak artikel yang berargumentasi bahwa wanita tidak sesuai menjadi pemimpin. Padahal menurut Jack Zenger dan Joseph Folkman dalam penelitian mereka untuk Harvard Business Review tahun 2012, wanita menunjukkan kualitas yang lebih menjanjikan daripada pria dalam kepemimpinan.

Sebagai contoh, untuk jajaran top manajemen, wanita dinilai lebih efektif oleh 67.7% responden dibandingkan pemimpin pria.

Penelitian Zenger dan Folkman pun menunjukkan bahwa semakin dewasa usia, pemimpin wanita menjadi lebih efektif daripada pemimpin pria. Wanita diatributkan untuk memiliki efektifitas yang lebih tinggi di area inisiatif, integritas, ambisi mencapai hasil, pengembangan diri, dan lainnya, dibanding dengan pemimpin pria.

Musuh Laten Wanita Pemimpin

Akan tetapi, bila memang benar wanita memiliki leadership yang lebih mumpuni daripada pria, mengapa hanya sedikit wanita pemimpin yang berhasil mencapai puncak profesi mereka? Sheryl Sandberg, COO Facebook, bahkan mengatakan persentase woman in leadership yang sudah sedikit itu semakin menurun semenjak 2002!

Pendapat saya, salah satu penyebabnya justru merupakan musuh laten atau tersembunyi – yang perlu selekasnya disadari oleh para wanita pemimpin. Musuh ini demikian berbahayanya karena memiliki daya untuk mencuri fokus, membunuh potensi dan akhirnya memadamkan pengaruh dari para wanita pemimpin. Musuh ini bernama: ketidakpercayaan diri.

Cengkeraman Ketidakpercayaan Diri

Ketidakpercayaan diri, atau sering disebut insecurity, sangat sulit untuk dideteksi. Ia menjangkiti siapa saja, terlepas jenis kelamin atau usianya. Ia telah membunuh begitu banyak potensi asli dari individu-individu dan menggantikannya dengan yang imitasi, terlepas berapa tahun pengalamannya dalam kepemimpinan dan bisnis.

Hanya saja, menurut saya, para wanita pemimpin menghadapi tantangan yang lebih genting untuk ini – khususnya karena adanya dorongan kasat mata untuk membuktikan kesetaraan dengan pria.

Sebelum melangkah terlalu jauh, bagaimanakah Anda dan saya mendefinisikan “percaya diri”?

Dalam psikologi praktis, “percaya diri” diartikan sebagai kondisi mental seorang individu bahwa ia yakin dapat berbuat atau melakukan suatu tindakan. Akan tetapi, ada definisi yang jauh lebih tegas yang saya sarikan dari Dr John Maxwell: kepercayaan diri adalah saat Anda dan saya benar-benar menyukai diri kita.

Orang yang tidak percaya diri tidak 100% menyukai diri mereka.

Entah mereka merasa kurang pintar, kurang cantik, kurang terkenal, kurang dihargai, kurang kaya, suami kurang mendukung dan sebagainya. Ada kualitas orang lain yang mereka dambakan menjadi bagian dari hidup mereka.

Sementara hal itu terjadi, ketidakpercayaan diri merasuk dan mulai mencuri fokus kita dari tujuan yang relevan. Anda bisa jadi lebih keras bekerja dan lebih produktif, namun di akhir hari Anda bertanya pada diri Anda sendiri:

  • mengapa aku belum puas?
  • mengapa aku merasa salah jalan?
  • mengapa aku merasa ada hal lain yang seharusnya dilakukan?

Tiga Cengkraman yang Perlu Diwaspadai Wanita Pemimpin

Saat ketidakpercayaan diri menyerang Anda, inilah gejala-gejala yang biasanya tampak:

Pertama, Anda menjadi ragu akan kompetensi diri sendiri.

Dan keraguan itu menyebabkan Anda terpacu untuk membuktikan diri bahwa Anda memang cocok untuk posisi kepemimpinan yang sedang Anda jabat. Mari saya kenalkan Anda dengan JL.

JL adalah seorang pemimpin cabang sebuah bisnis pendidikan. Setelah diangkat oleh suaminya untuk memimpin cabang tersebut, JN bekerja sangat keras (baca: workaholic) bahkan tanpa waktu istirahat yang berarti.

Saat saya berkenalan pertama kali dengan ia dan suaminya, JL belum pernah menikmati liburan dalam dua tahun terakhir – termasuk saat liburan Idul Fitri. Turnover para manajer yang bekerja untuknya sangat tinggi dan beberapa manajer bahkan bercerita pada saya bahwa mereka sering berpura-pura sakit agar tidak ditelepon saat malam atau akhir pekan untuk bekerja.

Saat evaluasi tim bersama saya, JL mengeluh bahwa timnya tidak berdedikasi dan saat saya bertanya apakah artinya ‘dedikasi’ untuknya, JL berkata: “siap bekerja 24/7”!

Anda mungkin menertawakan JL karena kenaifannya, bila bukan karena hal itu memang menggelikan. Akan tetapi, izinkan saya memberitahu Anda: semua workaholism itu karena JL tidak percaya diri. Ia ingin membuktikan pada suaminya ia orang yang tepat untuk mengelola cabang itu. Dan bahwa ia lebih baik dalam ‘menghasilkan uang’ dari mantan istri dari suaminya.

Kedua, Anda ingin menyenangkan hati semua orang.

Dan itu menyebabkan Anda sukar berkata tidak. Karena Anda terlalu mudah mengatakan ‘ya’, Anda terjebak dalam putaran yang melelahkan dimana Anda merasa kehilangan kendali kepemimpinan yang sesungguhnya. M adalah contoh yang menarik untuk mengulas cengkraman kedua ini.

Sebagai marketing manager sebuah perusahaan yang sedang berkembang, M memiliki tanggung jawab dan wewenang yang cukup signifikan. Ia suka bersosialisasi dengan banyak orang dan suka menyenangkan hati orang.

Tidak terlalu banyak masalah dengan hal itu, suatu hari M dihadapkan dengan suatu keadaan dimana banyak prioritas yang perlu ditangani di saat yang bersamaan pula!

Dalam konsultasi singkat via telepon, saya menanyakan M ‘apa yang ia rasa’ dengan kondisi tersebut dan ia menjawab ‘nanti gak enak dengan orang, Coach’.

Namun M mendapatkan eureka saat menghadapi pertanyaan kedua: ‘sebenarnya apa yang membuat Anda enak/ happy?’ karena ia menjawab: ‘saya tidak pernah berpikir tentang itu, dan saya rasa itulah yang luput dari saya selama ini’.

How interesting!

Singkat cerita, M memutuskan untuk melakukan dua hal penting setelah menutup telepon: (1) memilih dua fokus untuk ia tangani hari itu dan meminta maaf pada orang-orang yang tidak ia bisa tangani; dan (2) meluangkan waktu untuk melatih timnya sehingga bisa melayani pelanggan sebaik dirinya.

Terakhir kali saya berbincang dengannya di akhir 2014 lalu, M sudah menjadi direktur marketing dan sangat menikmati kepemimpinannya.

Tanpa kehilangan kebaikan hatinya, M mengatakan pada saya bahwa ‘menyenangkan orang perlu dimulai dengan menyenangkan diri sendiri, bila tidak, kita akan melakukannya sebagai candu: kita membantu orang agar kita bisa merasa baik’.

Sungguh benar!

Ketiga, Anda iri hati dengan kompetitor Anda.

Dan itu menyebabkan Anda mengkompromikan nilai-nilai hidup Anda. Bila ada ‘painkiller’ untuk ketidakpercayaan diri, maka itu adalah untuk melihat kita melesat mengalahkan kompetitor kita – entah dalam organisasi maupun dalam bisnis. Namun ini masalahnya:

Dan momen dimana Anda memiliki tandingan yang serius dalam kepemimpinan dan Anda semakin sering membandingkan diri dengannya, semakin dekat Anda dengan kemungkinan melakukan kompromi akan hal-hal yang tidak pernah Anda pikirkan akan lakukan. Ini adalah kasus yang menimpa WJ seorang pebisnis yang penuh potensi.

Mengawali karir sebagai sales, WJ melesat dengan penjualan-penjualan yang luar biasa. Sebelum memasuki tahun ketiga, ia sudah ditawari atasannya untuk memimpin sebuah cabang perusahaannya yang masih berlokasi di Jakarta.

Namun bukan hanya WJ yang dipromosikan sebagai pemimpin cabang, namun ada seorang wanita juga yang diangkat memimpin cabang lainnya. Dalam beberapa bulan pertama, persaingan mulai muncul di antara dua cabang baru itu dan masih merupakan persaingan sehat.

Akan tetapi seiring beberapa kekalahan angka penjualan saat Business Review Meeting, WJ menjadi jengkel dengan tandingannya tersebut. Semakin WJ memikirkannya, semakin ia tidak betah dan itu menyebabkan ia mengkompromikan kebijakan perusahaan: ia membeli barang tidak melalui prinsipal yang memiliki MoU dengan kantor pusat (baca: barang gelap) untuk harga yang sangat miring.

Dengan demikian ia bisa menjual lebih murah dan secara gerilya melakukan penetrasi ke market tandingannya pula. Sebuah cara berkompetisi yang lebih mudah, WJ pun ketagihan melakukannya sampai tiba waktu prinsipal menyingkap praktek tersebut dan melakukan komplain keras ke kantor pusat dengan mencabut lisensi mendistribusikan barang untuk seluruh cabang perusahaan itu.

Anda bisa menebak bahwa WJ akhirnya dipecat oleh pimpinannya.

Akar dari Ketidakpercayaan Diri

Untuk bisa mengalahkan musuh, kita perlu tahu terlebih dahulu darimanakah asalnya.

Ketidakpercayaan diri berakar dari pendapat orang lain tentang Anda yang Anda percayai. Saat Anda membaca ini dan Anda berkata: “saya sadar saya tidak percaya diri, Coach” – bisa jadi Anda telah bertahun-tahun mempercayai hal yang keliru yang orang lain katakan tentang Anda:

  • mungkin itu adalah orangtua Anda yang berkata bahwa perempuan lebih baik menjadi ibu rumah tangga dan tidak cocok berbisnis/ berkarir
  • mungkin itu adalah kerabat Anda yang berkata bahwa Anda tidak sepandai kakak dan sepupu laki-laki Anda
  • mungkin itu adalah mantan atasan Anda yang berkata bahwa Anda tidak sebaik sales manajer pria karena Anda tidak seberani mereka
  • mungkin itu adalah sahabat Anda yang berkata bahwa Anda tidak cocok bekerja di perusahaan multinasional karena Anda terlalu polos sebagai perempuan

Apa pun itu, Dr John Maxwell mengatakan “You don’t have to accept what people say you have to be” – Anda tidak perlu menerima apa yang orang lain katakan tentang apa yang harus Anda lakukan.

Menurut saya, Anda perlu menjadi orang pertama yang berkata pada diri Anda: “I believe in you, I like you” sehingga saat Anda efektif dan produktif dalam memimpin, Anda melakukannya karena Anda percaya diri, bukan untuk membuktikan sesuatu.

Dan saat kita memimpin dengan kepercayaan diri, komitmen tim kita pun meningkat – karena kepercayaan diri Anda membuka pintu bagi dukungan mengalir untuk Anda.

Dr John Maxwell mengatakannya demikian: “if a leader lacks confidence, the followers lack commitment”.

Dua Tips untuk Meraih Potensi Anda

Ladies, saya percaya bahwa Anda orang-orang yang luar biasa. Saya percaya apa yang Zenger dan Folkman (2012) temukan bahwa wanita adalah pemimpin-pemimpin yang hebat. Bangkit dan kalahkan musuh yang bernama ketidakpercayaan diri itu.

Dan berikut adalah dua tips untuk melakukannya:

Pertama, add value to others.

Saat kita tidak percaya diri, kita cenderung merasa sebagai korban dan akhirnya fokusnya ada pada diri sendiri. Dr John Maxwell mengatakan bahwa ketidakpercayaan diri menyebabkan orang menjadi self-protective, egois dan manipulatif karena mereka merasa perlu melakukan itu untuk bisa tetap bertahan.

Oleh sebab itu, patahkan belenggu kekeliruan akibat ketidakpercayaan diri itu dengan cara membantu orang lain, misalnya membantu melatih tim Anda dalam problem solving.

Bila Anda belum percaya diri melakukannya untuk tim Anda sendiri, lakukan itu untuk komunitas di luar organisasi Anda. Saya menemukan banyak wanita pemimpin yang dahulu workaholic, menikmati kehidupan yang seimbang setelah mencoba melakukan kegiatan sosial.

Prinsipnya sederhana: saat Anda membuat perbedaan di diri seseorang, kepercayaan diri Anda meningkat.

Kedua, pick a word for this year.

Pilihlah sebuah kata yang menggambarkan ambisi dan keyakinan Anda akan diri Anda sendiri di tahun ini. Sebagai contoh, saya memilih kata HOPE untuk tahun 2015 ini.

Saat Anda melakukannya dan Anda dengan kreatif menempatkannya di tempat-tempat yang sering Anda lalui (mobil, kamar tidur, kamar mandi, dapur, layar komputer dan sebagainya) – maka satu kata itu akan membantu Anda memadamkan akar ketidakpercayaan diri yang telah menipu Anda bertahun-tahun lamanya.

Penutup

Ladies, how you are great leaders!

Saya berharap bisa bertemu dengan Anda langsung untuk bisa mengatakannya pada Anda.

Bila Anda menemukan diri Anda sedang bergumul dengan ketidakpercayaan diri, saya mau mengatakan bahwa Anda bisa berubah lebih baik.

Dan bila Anda para pria pemimpin yang membaca artikel ini, kita pun bergumul dengan ketidakpercayaan diri here and there, right? Saya juga percaya bahwa kita bisa memimpin dengan efektif untuk tujuan bersama – bukan untuk membuktikan diri.

Selamat menyukai diri Anda!

Ide-Bisnis.com

Artikel ini ditulis oleh Coach Danny untuk majalah Managers’ Scope Februari 2015.
Your 2018 Business Plan