The Angry Leader

Kenali apa yang membuat Anda marah, cara yang keliru untuk marah dan solusi untuk Anda.

angry leader - feature image

Apakah yang Membuat Anda Marah?

Mungkin itu adalah saat Anda disalip paksa oleh pengemudi mobil yang urakan. Mungkin itu karena orang-orang yang kasar dan arogan. Mungkin pasangan hidup Anda membuat Anda marah. Mungkin atasan Anda, mungkin tim Anda. Mungkin berita tentang korupsi membuat Anda marah, atau berita-berita kemanusiaan. Hal-hal kecil, hal-hal besar.

Sebagai pemimpin di perusahaan yang tengah Anda kelola, Anda tidak imun dari pemicu-pemicu kemarahan. Konflik yang tidak sehat atau berkesinambungan bisa menjadi pemicu kemarahan Anda yang berusaha bekerja secara professional.

Dan kemarahan Anda bisa jadi hal yang baik bila mendorong Anda bertindak benar. Sebaliknya, kemarahan Anda adalah buruk bila hanya berhenti di kondisi marah atau justru mendorong Anda bertindak salah.

Kemarahan itu sama seperti api. Api bisa membantu: bisa menghangatkan, bisa untuk memasak. Atau bisa juga merugikan.

Dalam artikel ini kita akan melihat mengapa seorang pemimpin marah, dan cara-cara yang salah dalam mengelola kemarahan.

Apa yang membuat Anda marah (sebenarnya)?

Saya adalah seorang yang mudah marah. Anda bisa menelepon dan menanyakan itu langsung pada tim saya di kantor (catatan dan joke: Anda mungkin bisa sekaligus bertanya tentang inhouse training kami dan memesannya saat menelepon 😀 ).

Bila Anda bertanya, apa yang paling membuat Pak Danny sangat marah, saya terka jawaban mereka adalah: “bila saya kedapatan berbohong”.

Sebenarnya ‘bohong’, dibandingkan membawa lari uang perusahaan atau melakukan pelecehan seksual, nampak lebih ‘bisa diterima’ oleh kebanyakan orang.

Namun bagi saya, mengapa orang berbohong untuk hal kecil saja membuat saya marah besar?

Ternyata, penyebabnya adalah masa lalu saya. Saya seolah menjadi sangat rentan dengan luka yang disebabkan oleh kebohongan yang dilakukan orang-orang yang melukai saya di awal karir, dan beberapa hal lain yang tidak mungkin saya ‘curhat’-kan di sini.

Akan tetapi ada ‘sesuatu’ yang mungkin terjadi beberapa waktu yang lalu – bisa sebulan, setahun atau bertahun-tahun lalu – dan seperti saya, Anda masih marah.

Mungkin hal itu tidak terlihat saat Anda membaca, namun saya mengajak Anda, untuk bertanya pada diri sendiri: “apa yang telah membuat saya marah?”

Mungkin ada orang yang mengambil keuntungan dari Anda, lalu habis manis sepah dibuang di karir pertama Anda.

Mungkin Anda pernah ditipu dalam bisnis.

Mungkin ada kolega yang menghina dan melukai Anda, sehingga saat Anda membayangkan itu kembali di benak Anda, kemarahan pun muncul kembali.

Mungkin Anda marah kepada diri sendiri yang sampai sekarang belum mencapai mimpi Anda: “mengapa aku belum bisa mencapai karir xyz atau mengapa aku belum menikah” dan Anda jadi sangat sensitif kala menemukan kondisi-kondisi yang berpeluang memperlambat Anda di masa kini.

Mungkin Anda melihat karir Anda saat ini, dan Anda tidak begitu happy.

Anda marah pada atasan Anda karena beliau mengambil ide-ide Anda namun tidak mempromosikan Anda lebih lanjut.

Anda marah pada karyawan kepercayaan, yang keluar menjadi kompetitor dan mengajak karyawan-karyawan lainnya ‘hijrah’ ke perusahaannya.

Mungkin Anda tidak dihargai sebagaimana mestinya.

Saya tidak tahu pasti apa yang ‘telah’ membuat Anda marah, namun menemukan apa yang ‘telah’ membuat Anda marah adalah langkah pertama untuk mengendalikan kemarahan dengan efektif.

Baca juga  Merdeka Sepenuhnya

Detoks Bank Emosi Anda

Apa yang ‘telah’ membuat Anda marah di masa lalu bisa jadi adalah hal yang melukai diri Anda sendiri, melukai orang atau tim atau organisasi yang Anda hargai, atau melukai kemanusiaan.

Namun yang sebenarnya terjadi dengan apa yang ‘telah’ membuat Anda marah di masa lalu itu adalah TOPOTE.

Apa itu topote?

Topote adalah kata yang digunakan oleh Aristoteles dalam Bahasa Yunani yang berarti ‘ruangan kepada pikiran negatif, pikiran pesimis’.

Dengan kata lain, setiap kali kita marah, kita memberikan ruangan kepada pikiran-pikiran buruk untuk merajalela dalam benak kita. Dan bila topote itu penuh, kemarahan kita menjadi terekspos keluar.

Saat kita marah, kita tidak selalu serta merta mengekspos kemarahan kita. Ada yang diam saat marah. Ada yang setelah diam lalu lupa akan kemarahannya, namun masih terluka dengan kemarahan itu.

Apa pun itu, topote adalah seperti kolesterol. Tidak langsung membuat kita stroke, namun bila tidak pernah dikendalikan atau didetox, sepotong durian atau setusuk sate kambing saja bisa membuat kita tujuh keliling.

Topote, ruangan yang muncul dibenak kita saat marah, lambat laun membuat kita jadi ‘stroke’ kemampuan bersabarnya. Dalam kehidupan saya, setiap ada orang yang bohong pada saya di masa kini, topote saya mulai diisi dengan memori masa lalu dan kekuatiran bilamana orang ‘di masa kini’ itu bisa mengakibatkan saya bangkrut dan akhirnya saya marah dengan tingkatan yang salah.

Itu sebabnya Anda perlu memahami apa yang ‘telah’ membuat Anda marah, and be professional about it.

Apa yang ‘telah’ membuat Anda marah di masa lalu tidak perlu menjadi bahan bakar yang membakar satu lumbung saat Anda menemukan ‘tikus’ (baca: hal serupa) di masa kini.

Detoks emosi negatif dengan memahami diri Anda dan menyadari topote milik Anda. Tanpa memahami apa yang ‘telah’ membuat Anda marah, Anda – seperti saya – bisa tersandera dengan topote bahwa Anda bisa mengalami rasa sakit yang di masa kini sehebat yang Anda alami ‘di masa lalu’. 

Baca juga  The Feminine Leader

Cara keliru mengelola kemarahan

Ada dua cara yang salah dalam mengelola marah dalam kehidupan kita sebagai pemimpin di perusahaan maupun sebagai individu.

Pertama adalah the spewers
“Pelampias Amarah”

Kata ‘spew’ dalam Bahasa Inggris berarti mengeluarkan sesuatu keluar dengan cepat dan keras; dan ‘spew’ digunakan juga untuk menjelaskan saat kita memuntahkan sesuatu keluar.

Jadi, the spewers adalah orang-orang yang melampiaskan amarah mereka. Bila Anda adalah spewer, kesabaran Anda pendek dan Anda mudah marah. Bila Anda marah, semua orang di sekeliling Anda tahu tentang itu.

Ada orang yang mengajarkan pada saya: “lebih baik marah di depan orangnya daripada di belakang” atau “kalau sudah keluar marahnya, saya lega Pak dan semua selesai beres”.

Bila Anda tipe orang yang percaya dengan pengajaran itu, percaya pada saya: Anda telah percaya kebohongan. Anda mungkin sudah lega, namun banyak orang-orang yang terluka di sekeliling Anda.

Saya belajar hal pahit bahwa saat saya spew kemarahan kepada karyawan A, karyawan lain yang tidak bersalah mendapatkan getahnya dan terbuang waktunya.

Yang buruk dengan hal itu adalah: saat kita melampiaskan marah kepada orang yang bersalah dan orang yang tidak bersalah terkena getahnya (entah wajah kita muram atau dia terkena bunyi bantingan pintu kita), Anda menghancurkan hubungan yang baik dengan orang yang baik.

Kedua adalah the Stewers
“Penyimpan Kepahitan”

Lalu adalah tipe orang-orang yang memendam amarah, yang saya sebut sebagai the stewers.

Dari kata ‘stew’ kita mendapatkan makna merebus, menjerang atau mendidihkan. Sama seperti merebus air, the stewers merebus kemarahan mereka. Mereka tidak langsung melampiaskan amarah, namun berusaha meredamnya.

Akan tetapi, yang kebanyakan dilakukan orang bukanlah meredam, namun merendamnya dalam panci yang sedang dipanaskan.

Mengapa saya menulis seperti ini? Karena saat kita adalah stewers, kita terlihat bisa mengendalikan diri, namun di dalam hati kita, kenyataan yang sebenarnya ada sesuatu yang sedang dipanaskan dan bisa mendidih kapan pun.

Konflik dalam perusahaan tergolong paling sering terjadi karena kita memilih untuk stewKita terlihat tidak ada masalah, padahal yang sebenarnya terjadi adalah perang dingin antar departemen.

Tanpa disadari kita memiliki daftar kesalahan manager atau departemen lain sehingga kita perlu memberi sedikit ‘pelajaran’ dengan menunda membantu permintaan mereka dan sebagainya.

Apa yang perlu dilakukan saat Anda marah?

Leaders, apa yang perlu kita lakukan saat kita marah? Bagaimana cara kita mengelola amarah kita?

Baca juga  Memaafkan

Well, jawabannya: tergantung jenis marah apa yang kita alami saat ini.

Pertama, bila Anda marah karena sesuatu menyerang ego Anda atau karena hal-hal yang tidak prinsip merugikan banyak orang: padamkan marah itu.

Mungkin Anda mengatakan, “Namun Pak Danny, Anda tidak mengerti…” atau “Saya tidak bisa mengendalikan amarah saya, Pak”.

Saya menuliskan pada Anda, bahwa Anda mampu melakukannya. Marah untuk hal-hal yang menyerang ego atau hal tidak prinsip adalah marah untuk karyawan yang lupa mematikan AC saat pulang, atau saat ada orang yang mengambil tempat parkir Anda, atau ada orang yang status facebook-nya “kena menyindir” Anda.

Padamkan itu, kendalikan dan detoks kemarahan itu keluar dari topote Anda. Tegaskan pada diri Anda, leaders, bahwa you are born to deal with matters more important than those small wrongs.

Kedua, bila Anda marah karena hal yang penting untuk diperhatikan, karena mengancam sustainability perusahaan atau sejenisnya, gunakan amarah Anda sebagai energi penggerak visi.

Nah, poinnya di sini adalah gunakan sebagai ‘energi penggerak’ bukan sebagai pelampiasan semata.

Saya agak miris bila melihat atau mendengarkan para pemimpin sibuk ‘membela’ perusahaan dalam rapat namun tidak ada yang berani take a stand untuk berinisiatif sukarela membantu perusahaan.

Izinkan saya menuliskan ini: what you are angry about is your vision.

Bila Anda marah akan penjualan yang menurun, jadikan itu visi Anda. Bila Anda marah akan komplain-komplain yang diterima, jadikan itu visi Anda. Bila Anda marah akan rekrutmen karyawan yang lambat, jadikan itu visi Anda.

Apa yang membuat Anda marah, jadikan itu visi kerja Anda. Do something about it.

Refleksi bersama

Jadi “marah dengan efektif”, mungkinkah?

Jawaban saya adalah sangat mungkin. Tidak mudah, tapi sangat mungkin.

Setiap kita memang tidak imun dari rasa marah namun kita bisa melatih diri kita untuk marah dengan cara yang benar dan untuk tujuan yang benar.

Saat Aristoteles menuliskan “setiap orang bisa marah – itu mudah, namun marah dengan orang yang tepat, dengan tingkat yang tepat di waktu yang tepat serta untuk tujuan yang tepat – itu tidak dimiliki oleh semua orang dan tidak mudah untuk dilakukan” – sebenarnya Aritoteles memberikan kita sebuah kunci. Kuncinya adalah marah tanpa memberikan ruangan kepada pikiran negatif, pikiran pesimis.

Tanpa topote, marah kita bisa lebih objektif dan efektif.

Selamat marah, tanpa topote!