5 Etika saat Mendapatkan Referensi untuk Bisnis Anda

Mendapatkan referensi dari customer atau kenalan untuk bisnis kita adalah sebuah nilai plus. Bisa jadi itu berarti layanan Anda memuaskan customer, atau sang pemberi referensi percaya pada potensi bisnis Anda.

Sayangnya tidak semua orang menyadari akan adanya etika saat menerima referensi bisnis dan berakhir dengan si pemberi referensi “kapok”.

Jumat, 03 November lalu, beberapa rekan pengusaha berdiskusi dengan saya via whatsapp group dan mengusulkan lima etika ini saat mendapatkan referensi bisnis:

  1. Ucapkan terima kasih (jangan lupa).
  2. Berikan tanda terima kasih (belum tentu uang, bisa kue, atau kartu ucapan)
  3. Jangan komplain bila referensinya tidak closing, kecil atau buat rugi.
  4. Infokan hasil deal kita pada pemberi referensi. Lalu minta mereferensikan lebih dan lebih banyak lagi.
  5. Berikan juga referensi ke si pemberi referensi, atau kita referensikan si pemberi kepada orang lain.

Silahkan tambahkan saran Anda untuk etika saat mendapatkan referensi bisnis di kolom komentar ya! Terima kasih

Visit juga website mereka di sini: FRES, STROM, AIJ, GMF, dan CENTRIN.

Have a great day!

Harga waktu Anda sebagai pengusaha

Bagaimanakah seorang pebisnis menilai sesuatu itu berharga atau tidak?

Biasanya dari nilai ekonomis atau rupiah yang tersemat pada sesuatu tersebut. Itu sebabnya banyak orang yang berkata, “ada uang ada barang” – yang artinya sesuatu yang mahal biasanya berkualitas lebih baik.

Nah, pertanyaan saya bagi Anda hari ini:

Apakah Anda punya bayangan tentang harga dari waktu Anda?

Bagaimana kalau kita gunakan barometer serupa sebagai pedoman dalam menilai harga waktu Anda sebagai seorang pemilik bisnis? Anggaplah omzet Anda sebulan adalah Rp 500 juta. Bila sebulan kita hitung ada 24 hari kerja dan tiap hari kita bekerja 10 jam, setiap jam kita bekerja menghasilkan Rp 2,083,000.

Yang menjadi perenungan kita adalah ini:

Mengapa kita masih sering mau mengerjakan hal-hal yang nilainya kurang dari Rp 2,083,000 sebagai seorang pebisnis? Mungkin Anda mau “irit” pengeluaran gaji, tapi akhirnya menemukan diri Anda mengerjakan hal-hal teknis yang bisa dikerjakan oleh karyawan yang bisa Anda bayar lebih murah.

Mengapa kita tidak berani mengalokasikan uang dua juta rupiah itu untuk membeli waktu orang lain bekerja untuk kita, sehingga kita bisa menggunakan waktu untuk hal-hal yang lebih entrepreneurial?

 

Jadi, business owners, seberapa berharganya waktu Anda?

Baca juga: 

Bagaimana melakukan delegasi yang efektif?

Pengakuan seorang Business Coach

Apa yang perlu Anda lakukan bila salah prioritas?

Ide-Bisnis.com

Ujian Ketekunan

Kurang tekun adalah salah satu penyebab terbesar dari kegagalan. Pengalaman ribuan orang telah membuktikan bahwa kurangnya ketekunan adalah sebuah kelemahan yang umum bagi manusia. Bisa memulai, tapi tidak selesai.

Namun, kabar baiknya, kelemahan itu dapat ditaklukkan dengan upaya. Mudah atau tidaknya penaklukkan dari kurangnya ketekunan bergantung sepenuhnya akan kekuatan niat yang bergelora dalam individu tersebut.

Titik awalnya adalah “niat” dan “harapan”. Ingatlah ini selalu:

Harapan yang lemah menghasilkan niat yang lemah, yang akhirnya menghasilkan hasil yang lemah pula.

Itu sama seperti api kecil yang hanya menghasilkan panas yang lemah. Demikian pula bila Anda menemukan diri Anda kurang tekun, bisa jadi kelemahan tersebut bisa diobati dengan membangun “api” yang lebih besar di bawah “strategi” Anda.

“Api” di sini artinya Anda benar-benar jelas dengan harapan Anda, dengan apa yang Anda inginkan.

“Api” juga bisa diperbesar dengan dikumpulkan dengan api-api lainnya. Itu sebabnya Anda perlu bergabung dengan mastermind group dan dengan dukungan kelompok kecil itu, Anda bisa membangun ketekunan.

* disadur dari Napoleon Hill’s Think and Grow Rich