Memaafkan

Bagaimana film the Shack dapat membantu kita memaafkan sebagai seorang pemimpin

Bila Anda penyuka film yang inspiratif, ada sebuah film yang saya ingin sarankan: The Shack . Film bergenre drama yang diangkat dari novel laris berjudul sama tersebut akan mengubah hidup Anda – setidaknya iya bagi saya.

Film berdurasi 132 menit itu berkisah tentang seorang pria bernama Mack yang bergumul dengan kekecewaan dan sakit hati, dan ia menemukan jawabannya dalam sebuah pondok. Saya tidak lanjut menceritakan kisahnya dalam artikel ini demi tidak menjadi spoiler untuk Anda.

(Catatan: Anda mungkin tidak bisa menonton The Shack di bioskop tanah air, namun bisa mengaksesnya online atau streaming).

Mengapa The Shack mengubah kehidupan saya?

Jujur beberapa tahun belakangan ini, saya jengkel dengan dunia politik Indonesia. Kejengkelan saya makin menjadi dengan perilaku beberapa teman dan kenalan yang mendadak jadi fanatik dengan tokoh politik tertentu.

Setiap hari, bila bukan setiap saat, propaganda ditebar di whatsapp group atau media sosial – seolah kehidupan hanya tentang politik. Saya kesal juga dengan begitu cepatnya saya dilabel tidak “XYZ” atau “KLM” karena menolak untuk mendukung tokohnya.

Organisasi-organisasi yang seharusnya netral seperti organisasi agama, baik masjid atau gereja juga tidak kebal dengan fanatisme politik tersebut. Keluarga-keluarga ada yang bertengkar hanya karena beda dukungan. Sesuatu yang membuat saya tidak habis pikir.

Akan tetapi, saat menonton The Shack, saya belajar banyak hal – salah satunya adalah ini:

Forgiveness dan Leadership

Pernahkah Anda terbangun di malam hari memikirkan seseorang dan apa yang ia ucapkan atau lakukan di hari itu, dan memikirkan apa yang akan kita katakan saat bertemu dengannya besok?

Saya pernah (dan jujur bukan hanya sekali).

Fakta bahwa kita terluka perasaannya menunjukkan sisi manusiawi kita, bahkan keinginan untuk menyamakan skor atau membalas. Namun, leadership berarti kita cukup dewasa untuk memilah apa yang perlu dan tidak perlu – meski pun kita punya kemampuan untuk melakukannya.

Leadership berarti Anda dan saya memutuskan untuk ABAR (bahasa asli Arab dari kata sabar) yang berarti to overlook, untuk mengabaikan yang kurang penting untuk membuat ruang bagi yang benar-benar penting.

Namun bagaimana kita melakukannya?

Ada dua hal yang saya pelajari dari film The Shack:

Pertama, berhentilah menghakimi menurut standar perasaan.

Perasaan adalah barometer yang sangat plin-plan untuk bisa kita percayai dalam mengevaluasi sesuatu. Itu sebabnya saat Anda jatuh cinta, perasaan Anda bisa menutupi segala kenyataan tentang si dia – sampai akhirnya Anda menikahinya dan menyadari bahwa si dia ternyata banyak kelemahan.

Untuk bisa “abar” dan mengampuni sebagai seorang leader yang dewasa – Anda dan saya perlu memutuskan untuk  berhenti menggunakan perasaan Anda (termasuk mood) dalam  mengevaluasi sebuah pelanggaran yang dilakukan orang lain kepada Anda.

Beberapa saat lalu, ada seorang klien komplain kepada saya dengan cara yang membuat saya terpancing emosi juga. Akan tetapi, saya mengingat sebuah prinsip komplain kuadran 2 – yakni:

If your products / services are good, but the customer still complains:
Thank the customer and clear up confusion

Catatan: Mohon maaf, saya tidak mengupas empat kuadran komplain dalam artikel ini. Mungkin dalam artikel di bulan-bulan berikutnya.

Saya memutuskan untuk “abar(overlook, mengabaikan) cara komplain dari klien tersebut, dan pada akhirnya saya paham bahwa memang tidak ada yang keliru dengan layanan saya. Masalahnya ada pada diri klien saya yang sedang mengalami hari yang buruk dengan mitranya.

Bila saya menggunakan perasaan untuk menghakimi cara komplainnya, bisa jadi semua menjadi berantakan. Saling balas membalas dan memperjuangkan ego, padahal yang perlu diperjuangkan adalah growth.

Itu sebabnya Anais Nin berkata:

“we don’t see things as they are, we see things as we are”

Perasaan saya dan perasaan Anda bukanlah barometer yang bisa dipercaya untuk bisa mengampuni sebagai seorang leader.

Kedua, selaraskan perasaan Anda pada keputusan Anda, bukan sebaliknya.

Orang pasti akan mengecewakan Anda, jadi jangan pernah berharap mereka tidak akan melakukannya.

Baik disengaja atau tidak, individu-individu yang memiliki relasi dengan Anda akan membuat Anda kesal atau marah. Itu bisa berarti boss Anda, tim Anda, customer Anda, supplier Anda, pasangan Anda, anak Anda, dan siapa pun yang bernafas.

Bahkan untuk beberapa kasus tertentu, kita bisa jadi masih kecewa dan marah, walau orangnya sudah tidak bersama-sama kita lagi. Mungkin Anda masih bisa mengingat bagaimana seorang rekan kerja melukai hati (dan karir) Anda dengan fitnah atau kecurangan, padahal saat ini ia sudah tidak berada dalam satu perusahaan dengan Anda atau  malahan bila ia sudah tiada (meninggal dunia sekali pun).

Dalam film the Shack, saya belajar banyak dari Mack bahwa forgiveness adalah sebuah keputusan – bukan perasaan. Orang yang mengecewakan atau melukai perasaan Anda bisa saja mengulangi kesalahannya, membuang waktu dan energi Anda kembali.

Akan tetapi, forgiveness adalah sebuah keputusan yang berprinsip. Itu berarti kekuatan pengampunan Anda terletak pada kekuatan prinsip Anda. Dalam pikiran dan perasaan, kita perlu secara konsisten mengambil keputusan untuk mengampuni sebuah kesalahan sampai perasaan kita bisa selaras dengan keputusan yang kita buat tersebut.

Seorang leader yang dewasa dapat menahan kemarahannya, dan ia akan dipuji karena tidak menghiraukan kesalahan orang terhadapnya. Dengan cara apa? Dengan memahami bahwa ada prioritas yang lebih tinggi daripada sekedar memenangkan ego.

Memaafkan terkadang membutuhkan waktu, namun memaafkan tetap memiliki peluang untuk dilakukan dengan tuntas. Kuncinya adalah jangan memaksakan memaafkan sekaligus, lakukan bertahap sampai perasaan Anda selaras dengan keputusan yang Anda buat.

Forgiveness and Growth

Boss jarang meminta maaf pada karyawan mereka. Orangtua jarang meminta maaf pada anak-anaknya. Politisi jarang meminta maaf pada rakyat yang mereka wakili. Kita bisa meneruskan dengan contoh-contoh lainnya, namun buktinya sudah jelas.

Relasi kita dalam perusahaan sebenarnya memiliki sebuah “tombol reset” namun tidak pernah digunakan dengan baik.

Saat terjadi konflik atau perselisihan, kita mungkin mencari solusi. Akan tetapi, solusi tidak bisa efektif sebelum rekonsiliasi terjadi. Urutannya adalah rekonsiliasi dahulu, barulah solusi bisa berdampak positif bagi semua pihak.

Dengan forgiveness, maka rekonsiliasi dimungkinkan terjadi. Dengan forgiveness, rekonsiliasi yang memberikan ruang bagi growth terbuka lebar. Tanpanya, Anda dan rekan-rekan yang sedang berkonflik bisa mengalami artificial harmony – tidak bertengkar, namun juga tidak bersinergi, karena sibuk membela kepentingan masing-masing.

Anda bisa mengorder CD Team Synergy yang berisi 3 (tiga) track pengajaran terkait teamwork. Salah satunya tentang Artificial Harmony. Hubungi 021-29241957 atau whatsapp 0822-9900-7500 untuk info lebih lanjut. Terima kasih.

Tombol reset untuk konflik tersebut adalah:

“Saya minta maaf. Saya bersalah untuk….
Maukah Anda memaafkan saya?”

Tidak ada yang bisa menandingi hal di atas.

Kata-kata yang penuh kerendahan hati itu, bila diucapkan dengan tulus dapat membuka pintu rekonsiliasi dan memupuk ruang growth yang subur. Dengan melatih kekuatan yang dihasilkan dari forgiveness, banyak perusahaan yang merebut kembali kekuatan mereka.

Dengan forgiveness, kita tidak perlu menyandera atau disandera rekan sendiri dalam kesalahan masa lalu, padahal potensi yang ada sekarang bisa bermanfaat untuk bertumbuh pesat.

Talk-It Over

Bila Anda menyukai artikel ini, mari bersama jadi penyebar forgiveness di mana pun Anda berada. (Anda juga bisa bantu share artikel ini di facebook atau ke whatsapp group Anda loh)

Bagi Anda yang merayakan hari raya Idul Fitri, izinkan saya mengucapkan Minal Aidin Wal Faizin: mohon maaf lahir dan batin.

Selamat memaafkan!

Foto: Masjid Raya Sabilal Muhtadin, Banjarmasin. Foto karya Magfiroh Gontor

 

Artikel ini diadaptasi dari Forgiveness: The Shack and Forgiving for Growth yang ditulis oleh Coach Danny Wira Dharma untuk Managers’ Scope edisi Juni 2017.

 

Your 2018 Business Plan