John Maxwell: A Leader’s First Responsibility

Tanggung jawab seorang pemimpin adalah mendefinisikan realita

John Maxwell Indonesia - Tanggung Jawab Pertama Seorang Pemimpin

Dalam buku Managing in Turbulent Times(2006),Peter Drucker menulis: “Masa pergolakan adalah masa yang berbahaya, tetapi bahayanya yang terbesar adalah godaan untuk menyangkal realitas”.

Dr. John C Maxwell membagikan enam pertanyaan ini untuk menjaga diri kita dari godaan menyangkal kenyataan dalam peranan kita sebagai pemimpin.

tanggung jawab pertama seorang pemimpin adalah mendefinisikan realita

  1. Apakah kenyataan di dalam situasi ini?
    Apakah orang lain setuju dengan penilaian saya? Hadapi realita apa adanya sekarang, bukan “apa adanya dahulu” atau bukan seperti yang Anda harapkan.
  2. Dapatkah saya mengenali semua masalah secara riil?
    Dapatkah saya menguraikan realita yang ada untuk memahaminya dengan lebih baik? Anda tidak bisa mengendalikan apa yang tidak berhasil Anda kenali dan pahami.
  3. Dapatkah masalah tersebut diperbaiki?
    Pisahkan yang dapat diatasi dari yang tidak dapat diatasi (atau membutuhkan peranan orang lain). Ini membantu Anda berubah sebelum Anda terpaksa berubah karena masalah jadi membesar.
  4. Apa sajakah pilihan solusinya?
    Tetapkan sebuah rancangan arah baru, termasuk memutar arah kepada cara Anda melakukan bisnis yang sudah terbukti berhasil. Arah yang baru yang Anda pilih memberikan Anda kendali atas tujuan Anda sendiri.
  5. Apakah saya bersedia mengikuti pilihan solusi saya?
    Komitmen saya sebagai pemimpin mutlak diperlukan. Jangan hanya memanajemeni (baca: membuat aturan), tetapi memimpinlah (baca: menjadi teladan). Beberapa pengusaha perlu menyadari bahwa mereka yang seringkali melucuti wibawa pilihan solusinya sendiri.
  6. Apakah tim saya mengikuti pilihan solusi saya?
    Ini dimulai dengan komunikasi yang berterus terang dengan semua orang dalam tim Anda.

Pertanyaan-pertanyaan di atas membantu Anda dan saya melihat masalah-masalah bisnis dan kepemimpinan secara realistis. Kita terlindungi dari godaan “terlalu optimis“, “terlalu pesimis” atau “memimpin dalam fantasi“. Terlalu banyak pengusaha dan pemimpin bisnis yang seringkali menghindari kenyataan yang tidak menyenangkan dan mencitrakannya kelihatan positif di depan orang.

Kemampuan untuk mendefinisikan realita sebagai pemimpin berarti kita memiliki pikiran yang realistis, sehingga kita dapat menyadari konsekuensi dari tindakan kita lebih jauh dan lebih jelas ketimbang orang-orang di sekitar kita.

Baca juga  Cara Mengambil Keputusan yang Tepat

Mengapa itu penting?

Karena ketika Anda memimpin, orang lain bergantung pada Anda – bersama keluarga mereka. Ketidakmampuan saya untuk mendefinisikan realita dengan benar terkait kondisi perusahaan saya akhirnya melukai tidak hanya saya, tetapi juga orang lain. Orang lain bisa kehilangan pekerjaan, tim pecah berantakan, impian tidak terwujud, dan yang paling menyedihkan, beberapa relasi hangat dengan tim, customer, dan supplier bisa berakhir.

Empat strategi menjadi realistis

Empat hal lain yang Dr John C Maxwell sarankan agar kita menjadi pemimpin bisnis yang realistis adalah ini:

1. Mengakui kelemahan saya

“Saya adalah orang yang tidak realistis” adalah langkah pertama menuju pemulihan. Anda tidak dapat mendefinisikan realitas jika Anda tidak mau menghadapi realitas.

2. Merangkul orang yang realistis

Berkumpullah dengan orang lain yang bisa melengkapi Anda, yang realistis dan berani menghadapi kenyataan. Bila Anda cenderung optimis berlebihan, berkumpul dengan sesama orang optimis akan menyenangkan bila Anda ingin bersenang-senang. Namun, bila Anda ingin memimpin lebih baik dan bertanggung jawab, Anda perlu orang-orang yang berani berkata langsung di depan wajah Anda tentang realita dan kebenaran yang ada.

3. Meminta kejujuran dari orang lain

Pemimpin bisnis yang ingin besar tidak memerlukan sekelompok penjilat. Satu-satunya cara seorang pemimpin akan memperoleh kejujuran adalah dengan memintanya, dan memperlakukan orang dengan baik ketika mereka benar-benar jujur dengan Anda.

4. Mengundang “pihak luar” untuk memeriksa

Bayar konsultan luar, tim auditor, atau coach untuk datang, mengamati dan memberitahu Anda apa yang mereka lihat. Sepasang mata yang segar dan tidak takut “dipecat” karena mengatakan kejujuran akan membantu Anda memahami kondisi nyata tentang kekuatan dan kelemahan bisnis serta kepemimpinan Anda.

Stephen Covey quote on priority: A leader is the one who climbs the tallest tree, surveys the entire situation, and yells, "Wrong jungle!"

Penutup

Kutipan Stephen Covey di atas menjelaskan bahwa seorang pemimpin adalah orang yang paling berupaya untuk memahami situasi yang sebenarnya, dan berkata “kita salah arah” bila ternyata perusahaan kita salah arah.

Tantangannya adalah untuk bisa rendah hati mengakui kekeliruan.

Good news-nya, saat kita mengakui kekeliruan kita – entah karena terlalu pesimis, atau terlalu optimis, dan menyebabkan salah strategi, kita malah mendapat dukungan diam-diam dari tim.

Baca juga  Belajar dari Mahatma Gandhi

Tim kita bisa merasakan bilamana atasannya keliru membuat strategi dari anomali yang mereka alami di lapangan. Dan saat kita mengakui kekeliruan, mereka berubah menjadi yakin bahwa kita sudah kembali on-track dan berkata satu sama lain “boss kita sudah mendefinisikan kenyataan, kita punya lebih banyak harapan untuk maju dengan boss yang realistis“.

Selamat menjalani realita!

Disadur dari John Maxwell (2008), A Leader’s First Responsibility is to Define Reality. Thomas Nelson