Etika yang Terlupakan

Melupakan etika bisa menghancurkan sukses

manners maketh the man

Manners maketh the man.

Ungkapan klasik “manners maketh the man” dipopulerkan kembali Colin Firth dalam film Kingsman: the Secret Service di 2014.

Manners, yang dalam terjemahan bebasnya berarti sikap sopan atau etika, adalah hal yang jadi langka di era kini. Orang-orang cuek akannya dan tampak seenaknya memperlakukan orang lain dalam kehidupan sehari-hari.

Bukankah kita lebih sering melihat orang-orang: saling menghina, tidak malu berbohong, cuek berkhianat, dan tidak bersyukur, yang tindakan-tindakannya memenuhi bukan hanya berita politik, tetapi juga ke sendi-sendi relasi antara pemimpin bisnis dan organisasi seperti Anda dan saya.

Padahal, filsuf kenamaan dari Spanyol, George Santayana, mengatakan “those who cannot remember the past are condemned to repeat it”. Bisa jadi konflik-konflik besar di masa lalu, seperti tim yang tidak produktif karena perang dingin; perpecahan bisnis keluarga: sampai ke perang dunia bisa terulang – karena orang-orang yang melupakan etika.

Dan topik mengenai etika adalah sebuah topik yang sangat berat menekan hati saya – membuat stress dan terkadang marah. Apalagi dari hari ke hari, saya mengamati bahwa saat ini kita memang sedang hidup dalam budaya dimana orang-orangnya banyak bersikap tanpa etika.

Empat etika yang paling sering terlupakan.

Dalam interaksi sehari-hari dengan pelaku bisnis, empat etika ini yang paling sering terlupakan dan/atau dikeluhkan dalam kehidupan di zaman ini.

etika yang terlupakan - menghormati

Menghormati

Menghormati orang lain adalah etika pertama yang paling sering terlupakan oleh individu-individu masa kini. Izinkan saya mengutip Søren Kierkegaard, seorang filsuf Denmark, untuk menjelaskan:

Orang-orang zaman sekarang sibuk mengejek orang-orang yang telah membangun di masa lalu, untuk menunjukkan mereka bisa mengerjakannya lebih baik dari para pendahulu mereka. Dalam dunia korporasi, tidak jarang bukan kita mendengar eksekutif-eksekutif muda mengeluhkan bagaimana senior-senior mereka sudah outdated, ketinggalan zaman.

Celakanya, mereka tidak sungkan mengeluhkannya secara terbuka, dan tidak jarang, dalam bentuk ejekan. Mungkin karena mereka melakukannya dalam gerombolan, atau seenaknya di melalui sosial media.

Dalam kasus-kasus yang ekstrim, malah bukan hanya ejekan yang dihantarkan, tetapi pengakuan palsu bahwa pekerjaan seniornya adalah hasil karyanya juga. Ya, klaim pekerjaan orang lain sebagai pekerjaan kita adalah salah satu bentuk tidak menghormati.

Baca juga  Bagaimana Melakukan Delegasi yang Efektif

Kierkegaard mengingatkan kita bahwa tanpa upaya generasi masa lalu, kemungkinan besar kita tidak bisa memiliki capital atau kepercayaan yang bisa kita olah hari ini. Silahkan perbaiki, rampingkan cara-cara generasi senior kita dalam bekerja – tapi tidak perlu mengejek maupun menafikan fondasi yang dibangun mereka dalam korporasi kita saat ini.

etika yang terlupakan - kesetiaan

Setia

Dengan langkanya etika, orang-orang oportunis pun merajalela. Politik kantor makin gila-gilaan, sementara bajak membajak SDM antar kompetitor tidak malu-malu lagi. Salah satu klien saya malah mengalami “bedol desa” di mana salah seorang managernya dimodali oleh kompetitor dan mengajak belasan karyawan hijrah ke perusahaan baru itu.

Alasan dari para oportunis: semua orang butuh hidup lebih baik. Orang-orang yang berkata seperti itu memang akhirnya tidak bisa setia, karena bila kesetiaan kita dipengaruhi oleh segala kesempatan yang ada itu artinya memang tidak ada DNA kesetiaan.

Ingin hidup lebih baik memang tidak salah, tapi ada etika yang seharusnya kita perhatikan – misalnya, beberapa perusahaan menerapkan aturan non-competitive disclosure yang mencegah orang pindah ke kompetitor atau melakukan bisnis sejenis langsung setelah mengundurkan diri.

Saya jadi ingat nasehat orangtua bahwa dunia itu berputar.

Saat kita tidak setia, kita perlu bersiap-siap untuk dua hal. Pertama, siap-siap malu kalau perlu meminta pekerjaan dari orang yang telah kita khianati. Dan kedua, siap-siap kecewa kalau kita dapat balasan pengkhianatan dari karyawan-karyawan yang kita ingin andalkan.

etika yang terlupakan - integritas

Integritas

Integritas berada di urutan ketiga etika yang terlupakan, dimana di masa kini, kita akan lebih dikejutkan dengan integritas dan kejujuran, daripada kebohongan. Lihatlah bagaimana kita bisa terkejut bila ada orang yang mengembalikan dompet, handphone atau uang kita yang tertinggal. Kita malah sudah terbiasa dengan kenyataan kalau dompet tertinggal, maka sudah relakan saja.

Kita sudah terbiasa dengan tindakan tidak jujur dan tidak berintegritas dari manusia lainnya, sehingga kita terkejut bila masih ada yang jujur dan punya integritas.

Baca juga  Lima Musim Teamwork

Dalam dunia korporasi, integritas seolah punya harganya.
Di masa kini, integritas tiap-tiap orang tanpa bisa dibeli.

Mulai dari harga integritas yang murah, misalnya memalsukan biaya-biaya perjalanan dinas yang sekedar untuk mendapat beberapa juta rupiah lebih banyak ke kocek – sampai ke harga yang lebih mahal, seperti korupsi uang perusahaan yang menyebabkan kebangkrutan.

Dalam buku Corporate Fraud Handbook karya Joseph Wells (2017), dilansir bahwa satu dari lima orang-orang yang paling dipercaya oleh atasan yang pada akhirnya mengkorupsi uang perusahaan.

Penting untuk diingat bahwa etika yang disebut integritas ini unik: ia lebih mudah dijaga daripada dipulihkan. Dengan kata lain, bila kita sudah kehilangan kepercayaan orang, maka sangat sukar memulihkannya. Seolah 10 menit sikap tidak integritas akan menghancurkan 10 tahun nama baik yang dijaga.

etika yang terlupakan - rasa syukur

Rasa Syukur

Dalam buku the 5 Levels of Leadership, Dr John C Maxwell menyarankan orang-orang yang dipromosikan kepada sebuah jabatan oleh atasannya untuk menunjukkan apresiasi pada orang yang mempromosikannya. Lalu tidak melupakan rekan-rekan sejawat yang selama ini membantunya dalam pekerjaan.

Sayangnya, hal itu tampak diabaikan di masa kini.

  • Mereka sibuk merasa berhak untuk dipromosikan.
  • Mereka sibuk merasa berhak dapat gratis.
  • Mereka merasa berhak diperlakukan istimewa sekarang juga.

Fokusnya adalah untuk mendapat dan mendapat lebih banyak. Dan etika rasa syukur ini, bila dilupakan, akan menyebabkan tiga etika lainnya ikut bergejolak.

  • Tanpa rasa syukur, orang bagai kacang lupa pada kulitnya – sukar menghormati.
  • Tanpa rasa syukur, orang mudah berkhianat dan merasa diri mereka lebih penting dari yang sebenarnya.
  • Tanpa rasa syukur, orang ingin cepat-cepat berkuasa walau mengkompromikan integritas.

Apa antidotnya?

Ada dua antidot atau penangkal racun etika yang bisa kita asup.

Pertama, bangun kesadaran belajar prinsip leadership.

Leadership di sini berperan sebagai penyeimbang antara ambisi dan produktivitas yang sebenarnya. Leadership akan membantu Anda dan saya melihat:

  • Unggul sendirian adalah hal yang menyulitkan untuk menjadi benar-benar signifikan.
  • Sekedar memulai sebuah pergerakan tidaklah cukup, kita perlu benar-benar setia untuk bisa belajar dari masa lalu dan tekun di masa ini.
Baca juga  Tips Manajemen Stress

Bila Anda suka membaca buku, mulailah dengan buku 21 Irrefutable Laws of Leadership atau 15 Invaluable Laws of Growth karangan Dr John C Maxwell.

Bila Anda tidak suka membaca buku, tetaplah mencoba membaca buku :).
Cobalah membaca 6 halaman setiap hari dalam tempo 5-10 menit. Dalam sebulan, Anda akan menyelesaikan satu buku – dimana prinsip-prinsipnya bisa Anda ingat saat mulai lupa akan salah satu empat etika yang kita bahas.

Kedua, bergabunglah dengan sebuah komunitas.

Orang yang senang menyendiri sedang mencoba untuk membenarkan dirinya sendiri.

Sementara bergabung dengan komunitas akan membuat Anda saling mengasah ilmu dan pengalaman dari kehidupan orang lain.

Dr John Maxwell percaya akan apa yang disarankan oleh Napoleon Hill tentang pentingnya komunitas bagi seorang pemimpin. Komunitas yang disebut sebagai mastermind group, terdiri dari minimal 3 orang yang berkumpul dan belajar bersama akan sebuah mindset atau prinsip leadership.

Komunitas akan membuat Anda mengingat bagaimana interaksi yang saling menghormati dan mengapresiasi akan membantu Anda menjadi pemimpin yang lebih baik.

Penutup

Manners maketh the man. Dengan manners atau etika, kita menjadi individu-individu yang berbeda dari manusia pada umumnya. Dengan etika, kita menjadi tidak normal, dalam arti positif.

  • Normal di masa kini adalah sombong dan saling menghina.
  • Normal di masa kini adalah tidak setia dan oportunistik.
  • Normal di masa kini adalah berbohong.
  • Normal di masa kini adalah terus menuntut.

Orang-orang normal bukanlah problem solver yang dicari pemimpin-pemimpin besar.
Orang-orang normal hanya dicari untuk dijadikan konsumen karena sifat mereka yang konsumtif.

Anda dan saya akan menjadi orang yang tidak normal, orang yang aneh, dalam arti yang positif – yang membuat kita sukar digantikan (indispensable) karena kita true problem solver.

Dan akhirnya kita bisa mengajar kepada anak-anak kita, serta kepada tim yang lebih mudah dari kita bahwa:

We honor the past, celebrate today, and build the future.

Selamat merayakan etika bersama kita semua yang membaca ide-bisnis.com.

Diadaptasi dari tulisan Coach Danny Wira Dharma di Managers’ Scope Februari 2019 berjudul: Forgotten Manners.