Problem Solving

Berikut 21 Pertanyaan Problem Solving

cara problem solving - featured image

Keyword “cara problem solving” adalah salah satu yang paling sering dicari di Google. Dan bila berbicara tentang bisnis, maka problem adalah salah satu sahabat karib yang senantiasa mendampingi para pengusaha.

Tidak ada bisnis yang tidak menghadapi masalah, mulai dari rekrutmen, pajak, operasional, sampai ke stagnasi penjualan, persaingan bisnis yang sengit, serta peraturan pemerintah yang menyulitkan.

Kabar baiknya, rata-rata pengusaha adalah individu-individu jenius yang mahir memecahkan masalah. Problem solving is a piece of cake untuk Anda. Hanya saja, ada dua tantangan yang sering sekali para pengusaha hadapi tentang cara problem solving: bagaimana mengajarkan problem solving pada tim, dan mengapa masalah tertentu sering terulang terjadi?

Artikel Ide-Bisnis.com ini akan membantu Anda mendapatkan perspektif segar terkait dua pertanyaan tentang cara problem solving tersebut.

Kondisi yang kondusif untuk problem solving

Panik adalah kondisi yang saat tidak kondusif untuk problem solving. Itu sebabnya ada nasehat untuk tetap tenang saat menghadapi masalah, karena:

Akan tetapi selain menjadi tenang, ada tiga kondisi lain yang membantu Anda dan tim dalam mengasah cara problem solving:

1. Stop saling menyalahkan

Saling menyalahkan tidak memberikan manfaat apa-apa saat menghadapi sebuah masalah. Ya, memang kita harap masalah tersebut bisa dicegah bila si A tidak lupa, atau bila si B tidak keliru dalam menghitung – namun menyalahkan hanya menyita waktu yang bisa digunakan untuk mencari solusi.

Akan ada waktu untuk Anda mengkoreksi dan mengajar tim Anda tentang apa yang harusnya dilakukan. Terlalu prematur mengkoreksi (baca: ngomel) hanya melatih tim Anda untuk menyembunyikan masalah kecil (yang baru dilaporkan pada Anda saat menjadi besar).

Saya belajar untuk mengerem emosi saat kelalaian tim menyebabkan problem bagi perusahaan, dengan berkata ini: ‘Bantu saya memahami masalah ini: mengapa kita memiliki masalah ini?’ disambung dengan ‘Bantu saya selesaikan masalah ini dulu, masalah pribadi kita bahas setelah masalah ini selesai’.

2. Bersedia mengambil resiko kegagalan

Setiap solusi untuk sebuah masalah mengandung resiko. Saat Anda dan saya mencari solusi yang bebas resiko, justru itu adalah mindset yang sangat beresiko – mindset yang membuat Anda menunda dan akhirnya masalah Anda menjadi lebih rumit dari semula.

Kesediaan Anda mengambil resiko gagal menjadi lebih penting lagi bila Anda mau mengajar tim Anda cara problem solving. Hal tersebut akan membantu tim Anda bergerak dan berpikir lebih cepat terkait sebuah masalah. Dalam benak mereka, ada perubahan pola pikir dari: apa yang membuat boss saya tidak marah menjadi bagaimana kita memecahkan masalah ini dengan resiko yang terkecil?

Mindset tim Anda dibentuk dari kesediaan Anda mengambil resiko.

Bagaimana bila Anda merasa bahwa bisnis Anda sangat rentan gagal (satu kesalahan bisa mengakibatkan kebangkrutan, misalnya)? Bila benar demikian, Anda perlu memahami kenapa Anda merasa seperti itu – memilah apakah itu sebuah fakta atau ketakutan belaka.

3. Bersedia untuk belajar kembali

Dalam pengalaman saya melatih para pengusaha dalam business coaching, saya menemukan ini: Anda tidak bisa membangun perusahaan yang profitable dan tersistem baik tanpa melalui tantangan besar dan sering. Dan untuk bernavigasi melewati setiap masalah yang ada, sang owner perlu memiliki kegigihan, ketekunan, kesabaran dan kesediaan untuk belajar terus menerus.

Rasionalnya sederhana: tidak ada yang tahu tentang perusahaan Anda sebaik Anda, sang owner yang memimpin perusahaan. Bila Anda terus mengupgrade diri Anda, terus belajar, baik melalui buku, artikel, pameran, seminar, atau business coaching, Anda membuat diri Anda lebih besar dari masalah yang ada. Itu sebabnya Jim Rohn mengatakan:

Kesediaan untuk belajar kembali juga membantu Anda mengenali solusi yang paling efektif di antara banyaknya solusi yang terpikir. Terkadang solusi out-of-the-box dimulai dari kesediaan kita untuk berhenti merasa paling tahu dan mulai terbuka untuk perspektif lainnya.

Baca juga: Jadilah Tenang untuk membantu Anda siap untuk Problem Solving

Latih dan Perkaya Pertanyaan Problem Solving Anda

Banyak metode problem solving yang ada di Google maupun training-training, namun semuanya bermuara pada pertanyaan. Dengan pertanyaan-pertanyaan yang semakin kaya, Anda dan tim bisa melihat problem dengan kacamata yang lebih jernih.

Sebagai contoh, beberapa individu yang paling hemat yang saya kenal, bila tidak boleh dibilang pelit, hanya memiliki satu pertanyaan saat menghadapi masalah: “ada solusi yang murah?” atau bahkan “ada solusi yang tidak perlu bayar?”

Bapak Charles (bukan nama asli) adalah salah satunya. Perusahaannya semakin berkembang dan mulai merasa memerlukan sistem accounting. Dalam percakapan informal di sebuah coffee shop, ia mengeluh mengenai sistem pembukuan kantornya yang sering terlambat, banyak error dan rawan penggelapan. Saya menyarankannya untuk mulai mencari beberapa alternatif software accounting yang ada, tapi jawabannya sama: “mahal-mahal, Coach, bisa saya suruh si David (adminnya) buat aja gak pake excel“.

Bank pertanyaan Pak Charles hanya ini: “ada solusi yang murah? ada solusi yang tidak perlu bayar?“.

Saya “tambahkan” bank pertanyaannya dengan dua pertanyaan berikut:

  • Apakah ini pertama kali Anda merasa perlu punya software accounting, atau sudah terpikir lama?
  • Apa harapan Anda dalam hal ini? Apakah harapan Anda itu (solusi murah/ tidak perlu bayar) dalam realitanya membantu Anda atau membuat Anda frustrasi?

Pak Charles hanya tersenyum simpul, mungkin menyadari bahwa “ada barang ada harga” dan saat ini (setahu saya) sudah pakai software accounting.

21 Pertanyaan untuk Problem Solving Anda dalam Bisnis

Untuk membantu Anda lebih lanjut untuk cara problem solving, saya menyajikan 21 pertanyaan yang bisa Anda gunakan (bersama dengan tim) di bawah ini:

  1. Apa masalah terpenting yang kita mau selesaikan?
  2. Apa yang ada di balik ini?
  3. Apakah ini yang pertama kali kita menghadapi hal ini?
  4. Apakah kita bisa mengubah hal ini, atau kita yang perlu berubah?
  5. Bila hal ini dalam kendali kita, apa yang mau kita lakukan?
  6. Apa yang kita raih dengan berpikir seperti ini?
  7. Apa tujuan yang harus kita capai di sini?
  8. Apa yang kemungkinan akan terjadi?
  9. Apakah kita melihat sebuah pola di sini?
  10. Apa yang Anda rasakan tentang hal ini? / Apa yang terjadi dalam hati Anda?
  11. Menurut Anda, bagaimana pendapat (orang lain, atasan, rekan kerja) mengenai hal ini?
  12. Apakah contoh konkretnya?
  13. Apa prinsip hidup Anda tentang masalah ini?
  14. Apa budaya perusahaan tentang hal ini?
  15. Mengapa hal ini penting bagi Anda?
  16. Siapa saja yang terlibat/ perlu dilibatkan dalam hal ini?
  17. Apa yang menghentikan Anda melakukan hal itu?
  18. Bila kita melakukan ini, masihkah kita dapat merevisinya kelak?
  19. Dapatkah Anda menyebutkan apa yang membuat Anda kuatir?
  20. Apa yang membuat Anda menjawab seperti itu?
  21. Apakah hal ini perlu dijawab sekarang, atau kita bisa menunda untuk mencari informasi lebih lanjut?

Talk-It Over

Cara Problem Solving yang paling diharapkan oleh pengusaha yang dinamis adalah yang menyelesaikan masalah secara tuntas. Bila masalah selalu kembali setiap bulan atau setiap tahun, itu bagaikan kita memiliki mesin fotokopi masalah: masalahnya terus “difotokopi” dan menunjukkan kita tidak belajar dari pengalaman.

Pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah:

  • Dari saling menyalahkantidak mau ambil resiko, dan tidak mau belajar kembali, yang mana yang merupakan titik lemah Anda sebagai seorang pengusaha terkait problem solving?
  • Bagaimana Anda melatih dan mengasah diri Anda (dan tim) dengan 21 pertanyaan problem solving yang ada?

Subscribe and Download Your FREE E-Book