The Power of Appreciation

Niatan, Cara, Uang atau Waktu?

Berapa mahirkah Anda dalam membaca karakter orang? Sebagian pemimpin bisa secara luwes memahami orang lain – baik karakter dan potensinya. Sebaliknya, tidak sedikit juga pemimpin yang menyesal dan terkejut dengan keputusan dan sikap dari orang yang dinilainya sebagai “masih dalam kendali”.

Memahami orang yang kita pimpin merupakan sebuah tantangan yang gampang-gampang susah. Hal itu mudah dilakukan karena hanya membutuhkan niat dan kesengajaan dari kita sebagai pemimpin orang tersebut. Namun, hal itu juga sukar karena niat kita untuk memahami individu yang kita pimpin seringkali gagal diseriusi dengan alasan-alasan seperti kesibukan dan keadaan yang belum mendesak.

Padahal Kita Sudah Berniat

Pada akhirnya, penundaan demi penundaan untuk memahami orang lain ditutup dengan keterkejutan kita – saat orang yang bersangkutan memutuskan hal yang tidak pernah kita sangka ia ambil:

  • Karyawan berprestasi yang memutuskan resign, padahal kita sudah “berniat” mempromosikannya. Masalahnya, niat yang kita gagal seriusi selama ini membuatnya tidak merasa dihargai dan memilih untuk mengundurkan diri.
  • Customer bagus yang memutuskan membeli dari kompetitor, padahal kita sudah “berniat” untuk memberikan loyalty reward. Masalahnya, niat tersebut tertunda untuk dijadikan sebuah tindakan, dan itu membuat sang customer merasa hanya dihubungi saat kita mau meminta order darinya.
  • Supplier atau vendor baik yang memutuskan tidak mau berbisnis lagi dengan kita, padahal kita sudah “berniat” untuk mengunjungi dan mencari kesempatan berbisnis untuk produk-produk lain yang dijualnya. Masalahnya, niat tersebut kembali tertunda demikian lama, dan itu membuat supplier atau vendor terkait merasa bahwa hubungan bisnis selama ini hanya menguntungkan pihak kita.

Apa yang Anda pahami selama ini?

Tidak peduli bilamana bisnis Anda adalah sebuah startup, bisnis yang sedang booming, atau bisnis raksasa dengan pasar global – kenyataannya adalah: ada orang-orang yang membantu Anda melakukan sesuatu setiap harinya.

Karyawan Anda, rekan kerja, supplier, vendor, customer, bahkan keluarga melakukan bagian mereka yang mendukung pekerjaan Anda.

Masalahnya:
apakah mereka tahu Anda menghargai mereka?

Masalah yang lebih penting:
apakah Anda menghargai mereka sebenarnya?

Kurangnya pemahaman bahwa kita sedang dibantu dalam pekerjaan adalah penyebab utama kita tidak menunjukkan bagaimana apresiasi kita pada orang-orang yang selama ini membantu kita.

Bahkan bisa jadi kita merasa yang telah “berjasa” kepada mereka. Mungkin dalam hati, kita mengatakan ini:

  • Kamu beruntung bisa bekerja di tempat saya. Ini perusahaan besar, jadi resume kamu nanti juga bagus
  • Tanpa barang saya, bisnis Anda tidak akan maju seperti sekarang”
  • “Anda seharusnya bersyukur kalau perusahaan besar seperti kami mau membeli dari Anda”

Padahal, Dr John C Maxwell mengatakan bahwa:

Setiap kita perlu menyadari bahwa tanpa orang lain, sekecil apa pun perannya, kita tidak bisa melakukan pekerjaan kita dengan efektif.

Cara Mengapresiasi Karyawan: Kisah Dekan dan Resepsionis

Seorang dekan sebuah kampus kejuruan sedang membawa seorang karyawan baru berkeliling kantor. Ketika ia memperkenalkan setiap karyawan serta menjelaskan jabatan masing-masing, resepsionis kantor tanpa sengaja mendengarnya mengatakan bahwa jabatan dirinya sebagai seorang resepsionis sangat penting.

Resepsionis tersebut lalu berkomentar, “Jabatan saya tidak penting. Setiap hari, tugas terpenting saya hanyalah membuat laporan.”

Tanpa kamu,” jawab sang dekan, “universitas ini tidak akan ada. Semua mahasiswa baru pasti menemui kamu terlebih dahulu. Jika mereka tidak menyukaimu, mereka juga tidak akan menyukai kampus ini. Jika mereka tidak menyukai kampus ini, mereka tidak akan berkuliah di sini, dan kita akan segera kehabisan mahasiswa. Dan mungkin saja, kita harus menutup kampus ini.

Wah! Saya belum pernah menyadarinya,” jawab sang resepsionis, yang tampak lebih percaya diri dan duduk lebih tegak di meja kerjanya saat menjawab panggilan telepon.

Hanya seorang pemimpin yang bisa mengapresiasi, akan melihat orang-orang biasa yang dipimpinnya melakukan hal-hal yang luar biasa.

Ujung-ujungnya Uang, kan?

Hampir semua pemimpin bisnis yang saya temui menganggap bahwa apresiasi terbaik adalah uang. Loh, yang diinginkan karyawan adalah kenaikan gaji atau bonus, bukan? Customer juga maunya bonus atau diskon, atau tempo bayar yang sangat enak. Vendor dan supplier saya juga cuma mau order dan bonus akhir tahun saja kok.

Anggapan seperti itu barulah satu sisi dari dua sisi mata uang.

Benar, ujung-ujungnya uang bila mereka merasa tidak akan mendapatkan apresiasi yang mereka harapkan. Dalam hal ini, uang adalah kompensasi dari kekecewaan dari tidak merasa diapresiasi.

Akan tetapi, sebenarnya tidak semua melulu tentang uang. Ada hal-hal lain yang bisa kita lakukan untuk mengapresiasi orang lain, dan malahan bisa lebih powerful dari uang. Dan ini berlaku baik dalam bisnis, karir dan juga keluarga.

Tapi ya, memang lebih mudah membayar daripada mengapresiasi.

Membayar hanya perlu beberapa menit untuk dilakukan, apalagi dengan kecanggihan perbankan zaman sekarang. Mengapresiasi, sebaliknya, membutuhkan kita mengambil waktu memahami apa yang penting bagi orang tersebut dan menindaklanjutinya dengan waktu kita – karena kita menghargai apa yang dilakukannya.

Take Time to Appreciate

Seorang klien saya belajar untuk memahami seorang staff penting dalam bisnisnya, dan menyadari bahwa selama ini, staff tersebut sangat mengharapkan waktu untuk bisa mengurus anaknya yang sakit dalam waktu lama.

Kesibukan pekerjaan dan administrasi, digabung dengan rasa tanggung jawab yang tinggi, membuat staff itu tetap bekerja hari demi harinya.

Ini yang dilakukan klien saya. Ia mengirimkan sebuah email kepada staff yang dalam artikel ini kita sebut sebagai Pak Darwis:

Dengan kesempatan membawa putrinya berobat, Pak Darwis menemukan masalahnya adalah Kari alergi terhadap susu sapi. Dan tanpa perlu waktu lama, ia sudah kembali bekerja penuh waktu untuk Pak William, klien saya – dengan semangat yang berlipat-lipat ganda dan fokus kerja yang lebih tidak terbagi.

Pak William berkata pada saya bahwa ia bersyukur telah mengambil waktu untuk menyeriusi niatnya mengapresiasi timnya.

Betapa powerful-nya sebuah apresiasi!

Talk-It Over

  • Adakah Anda memahami peranan orang lain dalam kesuksesan atau pekerjaan Anda?
  • Adakah niat menghargai yang selama ini tertunda?

Selamat mengapresiasi dengan tindakan, bukan sekedar niat.

Your 2018 Business Plan