Cara Mencegah Karyawan Korupsi

Uang lelah, mark-up invoice dan komisi pelicin

awas karyawan korupsi

Cara Mencegah Karyawan Korupsi

Apakah Anda anti korupsi? Sebagian besar dari Anda kemungkinan menjawab lantang “tentu saya anti korupsi”. Dan kita mudah menceritakan bagaimana pejabat A atau pejabat B atau C terindikasi korupsi dari informasi yang kita dapatkan di situs berita resmi, opini atau bahkan grup whatsapp. Kita memang cenderung membatasi definisi korupsi hanya sebagai bentuk tindak pidana terkait keuangan negara yang melibatkan pejabat publik.

Akan tetapi, korupsi pun ditemukan dalam berbagai sektor, termasuk perusahaan-perusahaan swasta. Pelakunya pun berasal dari berbagai kalangan, mulai dari staf, administrasi, manager, direksi bahkan pemilik perusahaan itu sendiri.

Uang Lelah dan Komisi

Hampir semua klien saya menceritakan bagaimana bagian-bagian purchasing perusahaan sebagian besar meminta “uang lelah” atau bagian bila memberikan purchase order bagi klien-klien saya. Ada yang malu-malu, tapi ada juga yang terus terang meminta sekian persen dari setiap barang yang dibeli oleh perusahaan sang purchasing officer itu.

Di beberapa kasus, bahkan mereka mengajari caranya untuk mark-up invoice.

Terkait korupsi perusahaan swasta, di tahun 2019 detik.com memberikan hasil survei organisasi Transparency International Indonesia: 82% perusahaan swasta mengalami kerugian akibat korupsi. Meski pun jumlah kasusnya besar, tidak banyak yang masuk ke ranah hukum. Entah menghindari keluar dari mulut harimau, masuk ke mulut buaya bila berurusan dengan hukum – “perusahaan-perusahaan swasta paling hanya memberikan surat peringatan, sanksi, dipecat, disuruh balikin uang, selesai,” tandas Budi Santoso, Senior Manager Investigator Fraud EY, sebagaimana diliput kompas.com.

Cara Mencegah Karyawan Korupsi: Sudut Pandang Leadership

Korupsi yang kita angkat dalam artikel ini dibatasi pada korupsi uang, karena pada kenyataannya banyak hal-hal lain yang bisa dikorupsi – seperti barang maupun waktu. Dan terkait dengan korupsi uang, sudut pandang leadership memberikan setidaknya tiga cara mencegah karyawan korupsi:

Pertama, cek filosofi Anda terkait korupsi.

Dalam tool yang kami miliki (2016, Leadership Detox), banyak dari pemimpin bisnis tidak percaya bahwa korupsi dapat terjadi dalam operasional bisnis mereka. Mereka berpikir seperti itu karena percaya mereka sudah memilih orang-orang yang terpercaya untuk melakukan tugas yang beresiko tinggi dan penting.

Baca juga  Jadilah Tenang

Saya tahu siapa yang bisa saya percaya dan siapa yang tidak”, kata seorang pengusaha yang pada akhirnya tertimpa musibah dimana saudara ipar kepercayaannya memakan uang hampir 600 juta selama 2 tahun belakangan membantunya mengelola cabang.

Dari sudut pandang leadership, setiap pemimpin bisnis perlu memahami bahwa orang kepercayaan bisa berubah dan diperlukan trust but verify secara berkala.

Sebagai contoh, minta orang-orang kepercayaan Anda untuk cuti wajib selama dua minggu tiap tahunnya sementara Anda melakukan audit dalam pekerjaannya. Tentunya, minta secara mendadak dan di waktu yang tidak dikiranya. Orang-orang yang melakukan korupsi, umumnya tidak pernah absen dan enggan melakukan cuti.

Kedua, cek pendidikan anti korupsi di perusahaan Anda.

Kapan terakhir kali Anda berbicara tentang pentingnya kejujuran di hadapan karyawan?

Bila Anda baru berbicara setiap ada kasus penggelapan uang, Anda sudah terlambat. Seorang leader yang baik mengedukasi karyawan mereka secara berkala karena paham satu hal: manusia bisa lupa dan bisa berubah.

Tim Anda perlu diselaraskan kembali tentang nilai-nilai kejujuran, dan edukasi kejujuran lebih efektif dilakukan secara berkala dibanding secara seremonial atau insidental belaka.

Lebih dari itu, nilai-nilai kejujuran tiap orang bisa berbeda-beda. Sebagai contoh, ada perusahaan yang mentoleransi karyawannya membawa pulang stok alat tulis kantor untuk dipakai anak-anak karyawan mereka, dan ada juga yang tidak. Jadi diperlukan patokan jelas mengenai nilai-nilai kejujuran yang dianut oleh perusahaan Anda.

Ketiga, jadilah teladan integritas.

Integritas adalah harta yang langka di zaman-zaman ini, dan hampir semua orang punya harga yang murah untuk integritas mereka. Lihatlah para komisioner KPU yang terciduk KPK akibat kasus suap yang hanya senilai Rp 100 juta. Murah sekali integritasnya, kan?

Menjadi teladan integritas dalam membasmi korupsi bisa Anda lakukan dalam hal-hal sederhana. Saya memberikan dua tabel yang membedakan pemimpin yang menjaga integritas dan yang semaunya di bawah ini sebagai contoh untuk membantu Anda:

Baca juga  Your Best Nine Quotes to Kick Off Your 2019
Pemimpin yang menjaga integritas
Saya berkata pada karyawan: “masuk tepat waktu” Saya tiba di kantor tepat waktu. Mereka akan tepat waktu.
Saya berkata pada karyawan: “bersikaplah positif” Saya menunjukkan sikap positif. Mereka akan bersikap positif.
Saya berkata pada karyawan: “dahulukan customer” Saya mendahulukan customer. Mereka akan mendahulukan customer.
Saya berkata pada karyawan, “laporkan pengeluaran business trip tepat waktu” Saya melaporkan pengeluaran tepat waktu. Mereka akan melaporkan pengeluaran tepat waktu.

Bandingkan dengan…

Pemimpin yang semau-maunya terkait integritas
Saya berkata pada karyawan: “masuk tepat waktu” Saya terlambat tiba di kantor. Ada yang tepat waktu, ada yang tidak.
Saya berkata pada karyawan: “bersikaplah positif” Saya menunjukkan sikap negatif. Ada yang akan bersikap positif, ada yang tidak.
Saya berkata pada karyawan: “dahulukan customer” Saya mementingkan diri sendiri. Ada yang mendahulukan customer, ada yang tidak.
Saya berkata pada karyawan, “laporkan pengeluaran business trip tepat waktu” Saya cuek dan menganggap ini uang saya sebagai pimpinan perusahaan Ada yang melaporkan tepat waktu, ada yang tidak.

Mari Cegah Korupsi

Membasmi korupsi secara peraturan dan hukum perlu dibarengi dengan tindakan proaktif dari para pemimpin perusahaan. Memang ada Standar Manajemen Anti Suap ISO 37001 yang mungkin perlu (atau sudah) diterapkan oleh grup korporat besar, tapi sistem tetap bisa dibuatkan celah oleh manusia yang mengawasinya.

Namun bila kita sebagai pemimpin menjalankan tanggung jawab kita untuk:

  • membangun mindset yang benar terkait ancaman korupsi,
  • mengedukasi karyawan tentang nilai-nilai kejujuran
  • menjadi teladan integritas…

maka budaya anti korupsi dapat lebih mudah terinternalisasi dalam perusahaan Anda. Apalagi korupsi tidak mendadak besar, ia dipupuk dengan korupsi dan suap yang kecil-kecil dan semakin berani besar.

Dan seperti slogan Komisi Pemberantasan Korupsi, saya berharap bersama kita bisa berkata:

Berani jujur itu hebat!

Selamat mencegah korupsi.

Download Artikel ini dalam PDF